Erwin Harahap

do Now or Never

Untuk Papa yang selalu kerja lembur

Posted by Erwin on March 27, 2008

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam.
Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab,
“Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”
“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja”, ucap Sarah singkat.
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-.
Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur.
Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.
Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.
“Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur”, perintah Andrew.
Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,

Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ?,
Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.
“Tapi Papa…”
Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah.
Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya.
Anak kesayangannya itu belum tidur.
Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata,
“Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah,tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ?
Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih”, jawab Andrew

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam.
Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.
“lya, iya, tapi buat apa ?”, tanya Andrew lembut.
“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja.
Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,-
tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-.
Tapi uang tabunganku kurang Rp. 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa”, kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya gadis kecil itu erat-erat dengan perasaan haru.
Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini,
tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

____________________________
Diambil dari millist [ika_math_unpad]
Fw: [34duaribu] Untuk papa-papa (dan mama-mama) yang selalu lembur
Posted Thursday, 27 March, 2008 7:16:48 AM

Edit seperlunya oleh Erwin Harahap
Tanpa bermaksud menghilangkan makna aslinya

5 Responses to “Untuk Papa yang selalu kerja lembur”

  1. Shafna Aulia Sahara said

    Artikel yang cukup bagus.
    Terima kasih. Tulisan ini mengingatkan saya sama papa yang sering pulang tengah malam, kadang gak pulang karena kerja lembur terus. Jadi rindu sama papa.

    Trims ..

  2. ch2bi3 said

    Bagus buanget pak artikelnya,
    Bisa buat cha menangis dan inget papa yang salalu kerja malem demi anak-anaknya. Andai papa cha tau, cha sangat sayang sama beliau..

    T’kasih

  3. riliarully said

    Hi, salam kenal..blognya bagus
    Cerita Sarah di atas ngingetin aku ke anakku (22 bulan) yang juga sudah mulai tidak rela aku kerja lama2, terutama reaksi dia ke Ayahnya.
    Nangis pas bacanya. makasi ya jadi pgn cepet pulang, hiks
    Oiya soal blog, kebetulan aku buat jg di wordpress, kpn2 boleh berguru ya ;) thank’s before
    RuLLy

  4. Erwin harahap said

    Hallo pak Rully,
    salam kenal juga ….

    – Erwin

  5. anisa ayurosadi said

    nica story,,,,,,,,,,,,,,,,,,
    telat kaya nyh baca nyah,,,,,
    hehehheh,,,,
    hmmmmmmmm,,,
    smoga bnyak papah2 yg sadar akan ituh yah pak,,,,,,
    semangat!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: